ResearchBib Share Your Research, Maximize Your Social Impacts
Sign for Notice Everyday Sign up >> Login

Perspektif Usia Pewasiat Menurut Perundang-Undangan Indonesia

Journal: Fikiran Masyarakat (Vol.3, No. 1)

Publication Date:

Authors : ; ;

Page : 22-28

Keywords : ;

Source : Downloadexternal Find it from : Google Scholarexternal

Abstract

Wasiat adalah suatu ibadah seorang hamba kepada Rabbnya, dan untuk Indonesia, ketentuan wasiat ini diatur dalam KHI (Kompilasi Hukum Islam), dan KHI juga mengatur tentang batasan usia pewasiat, dengan batasan usia 21 tahun, sementara mayoriti ulama berpendapat bahawa yang boleh berwasiat yang sudah baligh dan berakal. Pengkaji menganalisa pasal 194 KHI menegaskan bahawa orang berwasiat ialah orang yang telah dewasa secara undang-undang, dan berbeza dalam fiqh bahawa seorang lelaki pernah ihtilam atau mimpi basah (bersetubuh) dan perempuan menstruasi, selain baliqh KHI juga menetapkan syarat lain yaitu Rasyid (cerdas) dan sebahagian ulama fiqh sebagai syarat pewasiat dan rasyid pada umur antara 18 -23 tahun KHI juga memahami kaedah ushul “Ahliyatu alwuhub” dan ahliyatu al-ada’a iaitu kelayakan seseorang untuk mempunyai hak dan kewajiban (mukallaf) untuk perkiraan syara’ ucapan dan perbuatannya, dan dikatakan bahawa orang yang disebut sebagai ahliyatu al-ada’a adalah orang yang baligh dan berakal, dengan menetapkan usia pewasiat 21 tahun sebagai batasan usia, KHI tidak menyalahi aturan ini bahkan berhati-hati, karena pada usia 21 tahun tentunya seseorang telah baliqh dan berakal “Rasyid” KHI berusaha menjaga agar orang yang berwasiat adalah orang yang paham &mengerti apa itu wasiat dan menyadari akibat hukum dari wasiat yang dilakukannya terhadap yang diwasiatkan. kondisi sosial anak anak Indonesia pada umumnya, dimana pada usia dibawah 21 tahun mereka dipandang belum atau tidak mempunyai hak kepemilikan karena masih menjadi tanggungan orang tua.

Last modified: 2015-10-19 05:05:31